Xmakoranews.com//Ratatotok, Minahasa Tenggara — Hujan deras yang mengguyur sejak malam 14 Oktober kembali merendam jalan-jalan utama dan pemukiman di Desa Ratatotok. Genangan air cepat meluas, menenggelamkan trotoar, menutup akses warga, dan memantulkan bayangan bangunan yang berdiri di tengah krisis. Meski pemerintah desa telah membersihkan saluran irigasi, banjir tetap datang. Kali ini, lebih cepat dan lebih dalam.

Di balik derasnya hujan, ada luka yang lebih dalam: hutan-hutan di sekitar Ratatotok yang dulu menjadi penyangga alam, kini digunduli demi tambang emas ilegal. Aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) semakin merajalela, bahkan masuk ke kawasan konservasi seperti Kebun Raya Ratatotok. Alat berat beroperasi tanpa kendali, merusak struktur tanah dan menghilangkan daerah resapan air.

Sumber dari lapangan menyebut dua nama cukong AP alias Alan dan SM yang diduga menambang di hutan konservasi. Solar subsidi pun ditimbun dan dialihkan ke tambang milik pengusaha Ko C dan JG. Semua ini terjadi di tengah lemahnya pengawasan dan penegakan hukum.

“Saluran irigasi sudah dibersihkan, tapi air tetap meluap. Hutan di atas sana sudah habis, jadi air langsung turun ke jalan,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

BMKG telah mengeluarkan peringatan dini untuk curah hujan ekstrem di Sulawesi Utara sepanjang Oktober. Namun, peringatan itu tak akan cukup jika akar masalahnya tak disentuh. Tanpa hutan, tanpa kontrol atas tambang, Ratatotok akan terus tenggelam bukan hanya oleh air, tapi oleh kelalaian dan keserakahan.(roy)